Selasa, 19 Januari 2010

ciri khas indonesia

Keberagaman Ciri Khas Indonesia

Seorang bapak dengan menggunakan kursi roda mengikuti Salat Idul Fitri bersama ratusan umat muslim lainnya di Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (23/10). Hari ini sebagian umat muslim di Indonesia merayakan Idul Fitri sehari lebih awal dari ketetapan pemerintah. [Pembaruan/Charles Ulag]

[YOGYAKARTA] Prof Dr Amien Rais mengatakan, keberagaman adalah ciri khas bangsa Indonesia dan umat manusia yang pluralis. Bangsa Indonesia mempunyai Pancasila, dan harus menjaga itu. Jangan pernah ada satu kelompok, satu golongan, satu suku, satu ras, dan satu agama yang memaksakan kemauannya sendiri.

Demikian dikemukakan mantan Ketua MPR Amien Rais selaku khatib dan imam dalam Salat Id di Lapangan Trirenggo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (23/10) pagi.

Salat Id juga berlangsung di berbagai masjid dan lapangan terbuka di DKI Jakarta serta daerah lainnya yang sebagian besar dihadiri oleh warga Muhammadiyah.

Amien Rais mengkritik sebagian pemimpin bangsa yang memberikan janji tanpa bukti. "Kalau berpidato tidak cocok dengan kenyataan, ya itu masuk kategori berbohong, sering memberikan janji, tapi tidak ditepati, janjinya muluk-muluk, jadi hanya fatamorgana," katanya.

Dia meminta pemerintah jangan sampai mencederai amanah rakyat. "Kemudian kalau diberi amanah itu mohon ditunaikan jangan dikhianati. Pemerintah itu dipilih rakyat untuk mengabdi kepada rakyat banyak, bukan pada konglomerat, bukan pada korporasi asing. Saya melihat apa yang dilaksanakan sekarang ini sungguh masih jauh dari yang seharusnya, bukan menomorsatukan kepentingan rakyat, tapi sepertinya kepentingan korporasi asing," katanya.

Nilai Terpenting

Pelaksanaan Salat Id di sejumlah masjid dan lapangan terbuka oleh warga Muhammadiyah di Jakarta berlangsung khidmat. Di Masjid Baitut Tholidin Departemen Pendidikan Nasional, Salat Id dihadiri oleh Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo yang juga Ketua PP Muhammadiyah.

Sebagai khatib adalah KH Umar Shahab, Dosen Universitas Paramadina dengan tema, "Kembalikan Diri ke Jalan Fitrah".

KH Umar Shahab menegaskan, nilai spiritual yang penting dari Idul Fitri adalah kembali kepada fitri. "Kembali pada fitri sebagaimana saat kita dilahirkan. Itulah nilai yang terpenting.

Sebagaimana diketahui, kita lahir dalam keadaan suci dan bersih. Dari kita belum bisa berbuat apa-apa lantas berkembang dewasa, menjadi pejabat, pengusaha, dan lain-lain. Jadi esensi Idul Fitri adalah agar kita kembali kepada fitrah yang suci, bagaimana kita dapat menjaga dan memelihara diri," katanya.

KH Umar Shahab mengemukakan, ibadah puasa selama sebulan penuh pada hakikatnya merupakan suatu ujian bagi mental dan fisik manusia. Puasa pun menjadi ajang perjuangan mahahebat untuk mengendalikan hawa nafsu.

Karena itu, Hari Raya Idul Fitri bisa dimaknai sebagai hari penuh kemenangan. Sebuah kemenangan yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi mereka yang telah melaksanakan puasa dengan penuh kesempurnaan.

''Itulah hari di mana manusia kembali kepada fitrah yang tidak punya dosa dan noda. Lahir dengan mental baru, menjadi manusia yang berwatak dengan jiwa tauhid tinggi,'' kata Umar Shihab.

Dikemukakan, makna Idul Fitri harus benar-benar menyatu dengan amal perbuatan. Tidak ada artinya bila di hari raya semua bersuka cita, namun pada bulan-bulan selanjutnya tidak ada perbaikan di sisi akhlak maupun moral.

Sementara itu, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr A Syafii Maarif di Yogyakarta, Senin menegaskan, Indonesia kekurangan sosok manusia yang peka dan arif dalam menyikapi masalah besar yang datang silih berganti, meskipun sebenarnya memiliki banyak orang pintar.

"Dengan demikian, kecerdasan otak semata sudah tidak memadai lagi, perlu dilengkapi kecerdasan rohani yang seharusnya lahir antara lain dari praktik berpuasa," kata mantan Ketua PP Muhammadiyah Prof Dr A Syafii Maarif dalam khotbah Idul Fitri di Yogyakarta.

Rasa lapar dan dahaga selama satu bulan, katanya, dalam khotbah Salat Idul Fitri 1 Syawal 1427 Hijriah di Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta, semestinya membangunkan kepekaan batin akan tanggung jawab kolektif untuk memperbaiki keadaan yang terlanjur rusak.

"Namun, upaya itu alangkah susahnya. Tidak jarang pula para pemimpin agama sudah sulit untuk diteladani, apalagi yang terlibat di dunia politik," kata Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu. [070/080/144/146/152/ 153/151/106/128/133/142/ 029/Ant]


Last modified: 23/10/06

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar